IHSG Anjlok Akibat Wabah Virus Corona Di Seluruh Dunia - Index saham gabungan IHSG anjlok tajam akibat virus corona di bursa efek sesi pertama pada hari Jumat tanggal 28 februari 2020, hingga menjadi yang terburuk dibandingkan bursa utama Asia lainnya.
Saat perdagangan saham hari ini dibuka, Indeks saham IHSG anjlok dari 1,8% ke 5.436,172. Penjualan saham gabungan yang terus berjalan menjadikan Indeks saham Index saham gabungan IHSG ini merosot tajam hingga dari 4,47% ke 5.288,370. Nilai tersebut adalah nilai dengan tingkat penurunan terbesar semenjak tanggal 5 September 2018 yang lalu.
IHSG dan Indeks Saham Lain Anjlok Akibat Virus Corona
Saham IHSG berhasil memangkas pelemahan tersebut dan akhir dari perdagangan saham gabungan di sesi pertama berada di tingkatan 5.311,961, atau merosot sekitar 4,04%. Di sepanjang sesi Pertama, nilai transaksi tersebut tercatat sebesar Rp 3,21 triliun dan asing dengan data yang tercatat net buy sebesar Rp 61,59 miliar.Pelemahan nyaris sekitar 4,5% membuat Indeks saham IHSG lebih buruk dibandingkan dengan bursa utama Asia hari ini. Bursa saham Jepang yang juga mengalami penurunan sekitar 4,1%, sedangkan bursa saham di China dan Korea Selatan anjlok lebih dari sekitar 3% dari yang sebelumnya, sementara di bursa Hong Kong tercatat anjlok lebih dari sekitar 2%.
Penjualan yang terus terjadi di pasar saham dalam negeri, terpicu oleh Indeks saham AS (Wall Street) yang juga mengalami penurunan pada perdagangan Kamis kemarin, yang membuat sentimen pelaku pasar semakin memburuk
Juru bicara Otoritas Jasa Keuangan atau OJK yaitu Sekar Putih Djarot menyatakan pelemahan saham IHSG di beberapa hari ini selaras dengan pelemahan yang juga terjadi di berbagai bursa saham.
"Pelemahan di berbagai bursa indeks saham dunia disebabkan oleh sentimen negatif penyebaran virus Corona yang penyebaranya semakin meluas ke tiap - tiap negara, termasuk juga negara Amerika Serikat," Ungkap Sekar Putih Djarot, pada hari Jumat tanggal 28 februari 2020.
Sekar Putih Djarot juga mengungkapkan, Bahwa OJK selaku regulator akan terus memperhatikan perkembangan indeks saham baik domestik, regional maupun indeks saham global.
Dikatakan Otoritas jasa keuangan akan terus berkomunikasi dengan Bursa Efek Indonesia untuk dapat melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan sesuai dengan kewenangan.
"OJK dan pemerintah di negara indonesia dan juga Bank Indonesia BI akan terus mensinergikan kebijakan untuk dapat terus memberikan stimulus dan juga menjaga kepercayaan publik terhadap IHSG khususnya investor".
Index Saham Gabungan IHSG siang ini melanjutkan laju negatif. Hingga saat sesi pertama telah berakhir, IHSG melemah dari 223 poin (4,03%) ke level 5.311. Sedangkan indeks LQ45 merosot dari 41 poin (4,6%) ke level 851.
Index saham gabungan berkapitalisasi besar di dalam industri dasar dengan data yang tercatat anjlok di antaranya Chandra Asri Petro Chemical (TPIA) yang merosot dari 5,75% ke posisi Rp 7.357 per saham. Charoen Pokphand (CPIN) turun dari posisi 5,93% ke posisi Rp 5.550 per saham, dan Barito Pacific (BRPT) terjun sekitar 8,67% ke harga Rp 895 per saham.
Sedangkan berdasarkan data RTI, indeks saham paling merosot atau dikatakan top loser yaitu Tiphone Mobile Indonesia (TELE) yang turun ke posisi 18,75%, diikuti dengan J Resources Asia Pacific (PSAB) turun sekitar 10,83%, kemudian Merdeka Cooper Gold (MDKA) turun sekitar 9,56%, Aneka Tambang (ANTAM) mengalami penurunan sekitar 9,17%, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun dikisaran 9,03%, kemudian ada Bank Mandiri (BMRI) yang turun sekitar 7,82%.
Sejalan dengan IHSG, beberapa indeks saham di kawasan Asia lainnya juga berada di zona merah. Sepertihalnya indeks saham Nikkei 225 yang mengalami penurunan sebesar 4,19%, indeks saham Hang Seng 2,69%, dan CSI 300 di Tiongkok turun hingga 3,44%. Indeks saham di negara-negara berkembang Asia juga tercatat, tercermin dari penurunan yang dialami oleh indeks saham MSCI Asia Pacific yaitu turun sekitar 0,81%.
EmoticonEmoticon